Keuskupan Sibolga

Latest Post

 PESAN PAUS FRANSISKUS UNTUK MASA PRASPASKAH 2021

“Sekarang kita pergi ke Yerusalem” (Mat 20:18)

Masa Prapaskah:

Waktu untuk Memperbarui Iman, Harapan dan Kasih

Saudara dan saudari terkasih,

Yesus mengungkapkan kepada murid-murid-Nya makna terdalam perutusan-Nya ketika Ia memberitahu mereka tentang sengsara, wafat dan kebangkitan-Nya, sebagai penggenapan kehendak Bapa. Ia kemudian memanggil murid-murid-Nya untuk ambil bagian dalam perutusan ini demi keselamatan dunia.

Dalam perjalanan Prapaskah kita menuju Paskah, marilah kita mengingat Dia yang «telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai wafat, bahkan sampai wafat di kayu salib» (Flp 2:8). Selama masa pertobatan ini, marilah kita memperbarui iman kita, menimba dari «air hidup» harapan, dan dengan hati terbuka menerima kasih Allah, yang menjadikan kita saudara dan saudari di dalam Kristus. Pada malam Paskah, kita akan memperbarui janji baptisan kita dan mengalami kelahiran kembali sebagai manusia baru melalui karya Roh Kudus. Perjalanan Prapaskah ini, sebagaimana seluruh perjalanan peziarahan dalam kehidupan Kristiani, bahkan sekarang diterangi oleh cahaya kebangkitan, yang mengilhami pemikiran, sikap dan keputusan para pengikut Kristus.

Puasa, doa dan sedekah, seperti yang dikhotbahkan oleh Yesus (bdk. Mat 6:1-18), memungkinkan dan mengungkapkan pertobatan kita. Jalan kemiskinan dan penyangkalan diri (puasa), kepedulian dan kasih sayang kepada orang miskin (sedekah), dan seperti anak kecil berdialog dengan Bapa (doa) memungkinkan kita untuk menjalani kehidupan dengan iman yang tulus, harapan yang hidup dan memberlakukan amal kasih.

1.    Iman memanggil kita untuk menerima kebenaran serta memberikan kesaksian terhadapnya di hadapan Allah dan semua saudara-saudari kita.

Dalam Masa Prapaskah ini, menerima dan menghayati kebenaran yang diwahyukan dalam Kristus berarti, pertama-tama, membuka hati kita terhadap sabda Allah, yang diwariskan Gereja dari generasi ke generasi. Kebenaran ini bukanlah konsep abstrak yang diperuntukkan bagi segelintir orang cerdas pilihan. Sebaliknya, kebenaran tersebut merupakan pesan yang dapat diterima dan dipahami oleh kita semua berkat kebijaksanaan hati yang terbuka terhadap kemuliaan Allah, yang mengasihi kita bahkan sebelum kita menyadarinya. Kristus sendiri adalah sang kebenaran ini. Dengan mengambil kemanusiaan kita, bahkan sampai melebihi batas-batasnya, Ia telah menjadikan diri-Nya jalan–menuntut, namun terbuka bagi semua orang–yang menuntun pada kepenuhan hidup.

 

Puasa, dialami sebagai bentuk penyangkalan diri, membantu orang-orang yang melakukannya dalam kesederhanaan hati untuk menemukan kembali karunia Allah serta menyadari bahwa, diciptakan menurut gambar dan rupa-Nya, kita menemukan pemenuhan diri kita di dalam Dia. Dengan merangkul pengalaman kemiskinan, mereka orang-orang yang berpuasa menjadikan dirinya miskin bersama kaum miskin serta mengumpulkan khazanah kasih baik yang diterima maupun yang dibagikan. Dengan cara ini, puasa membantu kita untuk mengasihi Allah dan sesama kita, karena kasih, seperti yang diajarkan Santo Thomas Aquino, adalah gerakan ke luar yang memusatkan perhatian kita pada sesama dan menganggap mereka satu dengan diri kita (bdk. Fratelli Tutti, 93).

Prapaskah adalah masa untuk percaya, menyambut Allah ke dalam hidup kita dan memperkenankan Dia untuk «berdiam» di antara kita (bdk. Yoh 14:23). Puasa melibatkan pembebasan dari semua yang membebani kita–seperti konsumerisme atau informasi berlebihan, entah benar atau salah–guna membuka pintu hati kita terhadap Dia yang datang kepada kita, miskin dalam segala hal, namun «penuh kasih karunia dan kebenaran» (Yoh 1:14) : Putra Allah, Sang Juruselamat kita.

2.    Harapan sebagai «air hidup» yang memungkinkan kita melanjutkan perjalanan.

Perempuan Samaria di sumur, yang dimintai minum oleh Yesus, tidak mengerti apa yang dimaksudkan Yesus ketika Ia mengatakan bahwa Ia dapat memberikan «air hidup» (Yoh 4:10). Secara alami, ia berpikir bahwa yang dimaksudkan Yesus adalah air secara fisik, tetapi Yesus sedang berbicara tentang Roh Kudus yang akan dilimpahkan kepadanya melalui misteri Paskah, menganugerahkan harapan yang tidak mengecewakan. Yesus telah berbicara tentang harapan ini ketika, dalam menceritakan penderitaan dan wafat-Nya, Ia mengatakan bahwa Ia akan «dibangkitkan pada hari ketiga» (Mat 20:19). Yesus sedang berbicara tentang masa depan yang tersingkap oleh belas kasihan Bapa. Berharap bersama Dia dan oleh karena Dia berarti percaya bahwa sejarah tidak berakhir dengan kesalahan kita, kekerasan dan ketidakadilan kita, atau dosa yang menyalibkan Sang Kasih. Artinya, dari hati yang terbuka menerima pengampunan Bapa.

Di masa-masa sulit ini, ketika segala sesuatu tampak rapuh dan tidak pasti, mungkin tampak menantang untuk berbicara tentang harapan. Padahal Prapaskah justru merupakan masa harapan, saat kita berpaling kembali kepada Allah yang dengan sabar terus memelihara ciptaan-Nya yang selama ini sering kita perlakukan tidak benar (bdk. Laudato Si’, 32-33;43-44). Santo Paulus mendorong kita untuk menempatkan harapan kita dalam pendamaian: «didamaikan dengan Allah» (2 Kor 5:20). Dengan menerima pengampunan dalam sakramen yang terletak di jantung proses pertobatan kita, pada gilirannya kita dapat menyebarkan pengampunan kepada orang lain. Setelah menerima pengampunan, kita dapat menawarkannya melalui kesediaan kita untuk masuk ke dalam dialog yang penuh perhatian dengan orang lain dan memberikan penghiburan kepada orang-orang yang sedang mengalami kesedihan dan kepedihan. Pengampunan Allah, ditawarkan juga melalui perkataan dan perbuatan kita, memungkinkan kita untuk mengalami Paskah persaudaraan.

Dalam Prapaskah, semoga kita semakin peduli dengan «mengucapkan kata-kata penghiburan, kekuatan, pelipur dan penyemangat, dan bukan kata-kata yang merendahkan, menyedihkan, amarah atau menunjukkan cemoohan» (Fratelli Tutti, 223). Guna memberikan harapan kepada orang lain, kadang-kadang cukup dengan bersikap baik semata, «bersedia menyingkirkan segala sesuatu untuk menunjukkan minat, memberikan karunia berupa senyuman, mengucapkan kata-kata penyemangat, mendengarkan di tengah-tengah ketidakpedulian yang berlaku umum» (Fratelli Tutti, 224).

Melalui rekoleksi dan doa hening, harapan diberikan kepada kita sebagai inspirasi dan cahaya batin, menerangi tantangan dan pilihan yang kita hadapi dalam perutusan kita. Oleh karena itu, kebutuhan untuk berdoa (bdk. Mat 6:6) dan, secara diam-diam, berjumpa Bapa yang penuh kasih.

Mengalami Prapaskah dalam harapan memerlukan pertumbuhan dalam kesadaran bahwa, di dalam Yesus Kristus, kita adalah saksi-saksi zaman baru, yang di dalamnya Allah «menjadikan segala sesuatu baru» (bdk. Why 21:1-6). Mengalami Prapaskah berarti menerima harapan dari Kristus, yang memberikan nyawa-Nya di kayu salib dan dibangkitkan oleh Allah pada hari ketiga, dan selalu «siap sedia untuk memberi pertanggungjawaban kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungjawaban [dari kita] tentang pengharapan yang ada pada [kita]» (1 Ptr 3:15).

3.    Kasih, mengikuti jejak Kristus, dalam perhatian dan kasih sayang kepada semua orang, adalah ungkapan tertinggi dari iman dan harapan kita.

Kasih bersukacita melihat orang lain bertumbuh. Oleh karena itu kasih menderita ketika orang lain menderita, kesepian, sakit, tanpa tempat tinggal, dihina atau membutuhkan. Kasih adalah lompatan hati; ia membawa kita keluar dari diri sendiri dan menciptakan ikatan berbagi dan persekutuan.

«‹Kasih sosial› memungkinkannya untuk maju menuju peradaban kasih, yang kepadanya kita semua dapat merasa terpanggil. Dengan dorongannya menuju universalitas, kasih mampu membangun dunia baru. Bukan sekadar kepekaan perasaan, kasih adalah cara terbaik untuk menemukan jalan perkembangan yang berlaku bagi semua orang» (Fratelli Tutti, 183).

Kasih adalah karunia yang memberi makna pada kehidupan kita. Kasih memungkinkan kita untuk memandang orang-orang yang membutuhkan sebagai anggota keluarga, sebagai sahabat, saudara atau saudari kita. Jumlah yang kecil, jika diberikan dengan kasih, tidak pernah berakhir, tetapi menjadi sumber kehidupan dan kebahagiaan. Seperti halnya dengan tempayan berisi makanan dan buli-buli berisi minyak milik janda dari Sarfat, yang mempersembahkan sepotong roti bundar kecil kepada nabi Elia (bdk. 1 Raj 17:7-16); demikian juga halnya dengan roti yang diberkati, dipecah-pecahkan dan diberikan oleh Yesus kepada para murid-Nya untuk dibagikan kepada orang banyak (bdk. Mrk 6:30-44). Demikian juga halnya dengan sedekah kita, baik kecil maupun besar, ketika dipersembahkan dengan sukacita dan kesederhanaan.

Mengalami Prapaskah dengan kasih berarti peduli terhadap orang-orang yang menderita atau merasa ditinggalkan dan ketakutan karena pandemi Covid-19. Di hari-hari ketidakpastian yang mendalam berkenaan dengan masa depan, marilah kita mengingat sabda Tuhan kepada Hamba-Nya, «Janganlah takut, sebab Aku telah menebus engkau» (Yes 43:1). Dalam amal kasih kita, semoga kita mengucapkan kata-kata kepastian dan membantu orang lain untuk menyadari bahwa Allah mengasihi mereka sebagai putra dan putri-Nya.

«Hanya pandangan yang diubah oleh kasih yang dapat memungkinkan martabat orang lain diakui dan, sebagai akibatnya, orang miskin diakui dan dihargai martabatnya, dihormati jatidiri dan budayanya, dan dengan demikian benar-benar disatupadukan ke dalam masyarakat» (Fratelli Tutti, 187).

Saudara dan saudari yang terkasih, setiap saat dalam kehidupan kita adalah waktu untuk percaya, berharap dan mengasihi. Panggilan untuk mengalami Prapaskah sebagai perjalanan pertobatan, doa dan berbagi kepunyaan kita, membantu kita–sebagai komunitas dan sebagai individu–untuk menghidupkan kembali iman yang berasal dari Kristus yang hidup, harapan yang diilhami oleh nafas Roh Kudus dan kasih mengalir dari hati Bapa yang penuh belas kasihan.

Semoga Maria, Bunda Sang Juruselamat, yang selalu setia di kaki salib dan di dalam hati Gereja, mendukung kita dengan kehadirannya yang penuh kasih. Semoga berkat Tuhan yang bangkit menyertai kita semua dalam perjalanan kita menuju terang Paskah.

Roma, Santo Yohanes Lateran, 11 November 2020,

Peringatan Santo Martinus dari Tours

Paus FRANSISKUS

Saudara kita, Mgr. Dr. Anicetus B. Sinaga OFMCap, lahir pada tanggal 25 September 1941 di Naga Dolok, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara, dari pasangan penganut agama Parmalim, Malim Sinaga dan Pandang Harianja, sebagai anak keempat dari sembilan bersaudara. Sejak kecil dia diberi nama Bongsu Sinaga. Pendidikan Sekolah Dasar ia lalui di dua sekolah karena perpindahan tempat tinggal orangtuanya; pertama di SD Negeri Siatasan, Simalungun, Sumatra Utara pada tahun 1949-1952 (kelas I-III), dan kedua di SDN Bahtongguran, Simalungun, Sumatra Utara, pada tahun 1952-1955 (kelas IV-VI). Pendidikan SMP ia lalui di SMP RK Jl. Sibolga 21 Pematangsiantar (1955-1959). Di saat SMP, beliau memilih dan memutuskan menjadi pengikut Yesus Kristus dalam Gereja Katolik. Pendidikan SMA ia lalui di SMA Seminari Menengah Christus Sacerdos Pematangsiantar (1959-1963). Sesudah itu ia memilih menjadi Kapusin, dan memulai novisiat di Novisiat St. Fidelis - Parapat pada tanggal 01 Agustus 1963. Dia mengikrarkan kaul pertama kalinya pada tanggal 02 Agustus 1964. Beliau menjalani Pendidikan Filsafat di Seminari Agung Parapat tahun 1964-1967. Kemudian menjalani Pendidikan Teologi di Seminari Tinggi Jl. Medan, Pematangsiantar (1967-1970). Ia menerima tahbisan imam pada 13 Desember 1969 di Pematangsiantar. Ia menempuh studi lisensiat (S2) Teologi Moral di Roma (Alfonsiana), pada 1970-1972 dilanjutkan dengan menempuh studi doktorat di bidang Teologi Dogmatik di Leuven Belgia pada 1972-1975, dengan tesis doktoratnya: The High God of the Toba Batak: Transcendence an Immanence. Setelah itu beliau menjadi dosen teologi di Seminari Tinggi Jl. Medan Pematangsiantar. Pada tanggal 28 Oktober 1978 ia diangkat sebagai Prefek Apostolik Sibolga. Tugas ini diemban hingga pada tanggal 24 Oktober 1980, saat ia kemudian diangkat menjadi Uskup Keuskupan Sibolga. Ia menerima tahbisan Episkopat langsung dari tangan Paus Yohanes Paulus II di Roma pada 6 Januari 1981. Ia menjadi gembala penuh Keuskupan Sibolga sampai pada tanggal 03 Januari 2004, saat ia diangkat sebagai Uskup Koajutor Keuskupan Agung Medan (KAM). Pelantikan sebagai Uskup Koajutor sendiri diadakan pada tanggal 12 Februari 2004. Selanjutnya ia diangkat sebagai Uskup Metropolit KAM pada 12 Februari 2009 dan dilantik pada 22 Februari 2009. Sesudah melayani sebagai uskup di Keuskupan agung Medan hampir 15 tahun, beliau memasuki masa pensiun (emeritus) pada Desember 2018. Sebelum mengakhiri tugas sebagai Uskup Metropolit KAM, Mgr. Anicetus kembali mendapat tugas baru dari Vatikan pada 23 September 2018, yakni sebagai Administrator Apostolik Keuskupan Sibolga, berhubung Uskup Sibolga, Mgr. Ludovikus Simanullang meninggal dunia pada 20 September 2018. Karena itu, setelah pensiun dari KAM, Mgr. Anicetus segera kembali menjalankan tugas kegembalaan di Keuskupan Sibolga hingga maut menjemput beliau pada tanggal 7 Oktober 2020. Selama menjabat sebagai Uskup, Mgr. Anicetus juga mendapat kepercayaan sebagai tugas tambahan. Ia pernah menjabat sebagai Ketua Komisi Liturgi KWI (1979-1988), sebagai utusan KWI ke Sinode Uskup di Roma pada 29 September – 29 Oktober 1983, Ketua Komisi HAK (Hubungan Antar-agama dan Kepercayaan) KWI pada 1988-1997, sebagai wakil Ketua Komisi HAK FABC pada 1989-1995, sebagai Ketua Komisi Teologi KWI pada 1997-2003, sebagai utusan ke Sinode Uskup Asia di Roma pada Oktober 1998, sebagai Delegatus/Ketua LBI KWI (2003-2009) dan sebagai anggota Komisi Teologi KWI (Ketua Seksi Ajaran Iman) pada November 2009-2018. Sedikit mengenai riwayat sakit Mgr. Anicetus sebelum mengakhiri peziarahannya di dunia ini. Mgr. Anicetus Bongsu Sinaga sebenarnya sangat jarang sakit. Dulu, memang beliau pernah mengidap bronkitis, tetapi sudah lama sembuh. Pada tanggal 13 Oktober 2020, Mgr. Anicetus merasa kurang sehat dan membutuhkan obat. Maka, beliau dibawa berobat ke Klinik St. Melania Sarudik, dan selanjutnya istirahat di rumah. Karena semakin lemah, tanggal 15 Oktober, ia menjalani opname di klinik yang sama. Menurut hasil pemeriksaan, Mgr. Anicetus mengalami gejala demam tipus. Demi perawatan kesehatan yang lebih baik, pada tanggal 16 Oktober Mgr. Anicetus dirujuk ke RS St. Elisabet Medan. Menurut hasil pemeriksaan, Mgr. Anicetus mengalami infeksi paru-paru yang serius, selain demam yang dikeluhkannya Selain itu, beliau juga sempat terpapar covid-19, namun dapat ditangani dengan baik sehingga pada 31 Oktober; berdasarkan pengujian laboratorium, ia dinyatakan bebas dari covid-19 (negatif). Setelah itu penanganan medis dikonsentrasikan pada paru-paru. Segala upaya medis telah dimaksimalkan, namun Tuhan mempunyai rencana lain atas hidupnya. Pada 7 November 2020, pukul 18.00 WIB, Mgr. Anicetus B. Sinaga menyelesaikan seluruh peziarahannya di dunia ini. Ia menghadap Allah dengan tenang. Sehari sebelum dia meninggal dunia, atas permintaan sendiri, dia menerima sakramen Pengurapan Orang Sakit dari tangan Uskup Keuskupan Agung Medan, Mgr Kornelius Sipayung OFMCap. Mgr. Anicetus dikenal sebagai pribadi yang sangat saleh, beriman, berpengharapan, penuh sukacita, optimis, cerdas, berpendidikan, berpikir positif dan penuh kasih kepada semua orang. Dia dikenang banyak orang karena kesederhanaannya dan kemurahan hatinya. Dia adalah gembala baik, yang berkorban untuk kawanan dombanya dan berhati mulia. Selamat jalan saudara kami, Yang Mulia Mgr. Anicetus Bongsu Sinaga OFMCap, dan berbahagialah bersama para kudus di surga. Doa kami mengiringi perjalananmu menuju Rumah Bapa. Doakan kami, para sauaramu, umat Keuskupan Sibolga, dan semua orang yang membutuhkan doa-doamu. RIP!

Sdr. Barnabas Winkler lahir di St. Andrä - Bozen, Italia, pada tanggal 19 Juni 1939, sebagai anak kedua dari pasangan Johann Winkler dan Philomena Hirber. Saat dibaptis ia diberi nama Johan Winkler. Dia menyelesaikan pendidikan Sekolah Dasar St. Andrä (1946 – 1953) dan Sekolah Menengah di Seminari Kapusin Salern/Vahrn (1953 – 1959). Setamat Seminari Menengah, ia memilih menjadi anggota Ordo Fransiskan Kapusin (OFMCap), dan memulai masa novisiat di Klausen pada tanggal 28 Agustus 1959 dengan nama Barnabas Winkler. Sdr. Barnabas mengikrarkan kaul perdana tanggal 29 Agustus 1960 dan Kaul kekal tanggal 29 Agustus 1963. Ia menyelesaikan Lyceum di Brunneck (1960-1962), Filsafat di Sterzing (1962-1964) dan Teologi di Brixen (1964-1968). Kemudian ditahbiskan sebagai diakon pada bulan April 1968, dan tahbisan imam pada tanggal 29 Juni 1968. Selesai tahbisan, Sdr. Barnabas Winkler mempersiapkan diri menjadi missionaris ke Indonesia. Dia tiba di Indonesia pada tanggal 01 Desember 1970, dan langsung belajar Bahasa Indonesia di Padangsidempuan sampai Juni 1971. Kemudian dia diangkat menjadi Pastor pembantu di Distrik Gunungistoli dan Nias Barat (1971-1973), dan menjadi pendamping calon bruder di Bruderan Gunungsitoli pada tahun 1973-1978 . Pada tahun 1978 Sdr. Barnabas menjalani kursus di Girisonta (RESPITA). Sdr. Barnabas melayani sebagai Superior Kapusin Regio Sibolga pada tahun 1978-1987 (3 periode) dan kemudian tahun 1990-1994 (satu periode). Beliau juga pernah menjabat sebagai Propinsial Kapusin Indonesia selama 2 periode (1985-1991). Kemudian sebagai Minister Propinsial pertama Propinsi Kapusin Sibolga, tahun 1994-1997. Pada tahun 1998-2003, Sdr. Barnabas menjadi formator dan gardian bagi para saudara-saudara muda kapusin yang menjalani masa post-nopisiat di Biara St. Fransiskus – Gunungsitoli. Ia juga diberi tugas sebagai Ekonom Keuskupan Sibolga (2001-2004; 2007-2010), dan kemudian menjadi Konselor sekaligus Wakil Minister Propinsial Propinsi Kapusin Sibolga pada tahun 2000-2003. Pada tahun 2004-2007, beliau diangkat sebagai Administrator Diosesan Keuskupan Sibolga. Terpilih kembali sebagai Konselor Propinsi Kapusin Sibolga tahun 2009-2012. Selanjutnya kembali sebagai formator di Biara St. Fransiskus – Gunungsitoli pada tahun 2012-2016. Mulai akhir tahun 2016 Sdr. Barnabas Winkler tinggal di Biara Yohaneum hingga menghembuskan nafas terakhir pada tanggal 06 Nopember 2020. Tak cukup kata untuk melukiskan rahmat Tuhan dalam diri Sdr. Barnabas, yang nyata dalam aneka talentanya. Sebagaimana judul buku kenangan 50 tahun tahbisan imamatnya pada tanggal 29 Juni 2018, Sdr. Barnabas adalah seorang ahli pembangunan fisik dan spiritual. Dia adalah seorang saudara yang rendah hati, sabar, murah membantu dan meiliki karisma sebagai pemimpin. Dia memiliki peranan yang sangat penting dan banyak dalam perkembangan Keuskupan Sibolga dan Ordo Kapusin Propinsi Sibolga, yang kemudian menjadi Kustodi General Sibolga dan Kustodi General Kepulauan Nias. Ia juga sangat berperanan dalam penanaman Kongregasi OSF Reute – Jerman di Keuskupan Sibolga, dan menghadirkan serta merawat para suster OSCCap dari Biara St. Klara di Senden, hingga tumbuh di Biara St. Klara Gunungsitoli, Sikeben, Sekincau, Kefamenanu dan Aek Raso. Semenjak tinggal di Biara Yohaneum mulai dari akhir 2016, sebenarnya Sdr. Barnabas sedang menjalani masa tuanya. Dia tidak lagi memegang tanggung jawab khusus, karena sudah tua dan memerlukan perawatan khusus, karena aneka peristiwa di masa lampau. Misalnya, tatkala gempa melanda Gunungsitoli – Nias pada bulan Maret 2005, Sdr. Barrnabas tertimpa reruntuhan gedung. Syukurlah bahwa ia ditemukan hidup. Namun, ia harus menjalani opname dalam waktu lama. Ia juga pernah menjalani aneka operasi di Jerman. Karena memiliki gangguan jantung, pada tahun 2011, Sdr. Barnabas berobat ke Jerman. Di sana dipasang baginya baterai sebagai alat pemacu jantung. Baterai itu sempat di-charge di Penang dan di Jakarta pada tahun 2015 dan 2016. Secara khusus selama setahun terakhir, kesehatan Sdr. Barnabas kerap menurun. Karena itu, ia rutin berobat ke dokter keluarga, dr. Toni Giovanno Sinaga, atau ke Klinik Yakin Sehat di Sibuluan. Ia rutin mengonsumsi obat demi menjaga kesehatannya, khususnya jantung dan tekanan darah. Karena sakit demam, batuk, dan denyut jantung yang sangat lemah, sesudah dirawat beberapa hari di Biara Yohaneum, Sdr. Barnabas Winkler dibawa berobat ke Klinik Yakin Sehat pada tanggal 16 Oktober 2020. Sebelumnya, pada pagi hari, Sdr. Barnabas telah menerima Sakramen Pengurapan orang Sakit dari tangan Sdr. Yoseph Sinaga. Selama di Klinik Yakin Sehat kondisi Sdr. Barnabas mengalami naik turun. Dan, karena keterbatasan tenaga medis dan sarana peralatan kesehatan, Sdr. Barnabas dibawa ke Rumah Sakit St. Elisabeth Medan pada tanggal 23 Oktober 2020. Setelah mempelajari hasil rekam medik dari Yakin Sehat, di RS St. Elisabeth, ia diperlakukan sebagai pasien suspect covid-19, dengan menempatkannya di ruang isolasi. Dan menurut hasil swab test, Sdr. Barnabas positif terpapar Covid-19. Berbagai upaya dilakukan oleh tim medis RS St. Elisabet agar Sdr. Barnabas lekas pulih dari penyakit yang dideritanya dan bebas dari Covid-19. Namun, karena usia sudah tua dan penyakit jantung yang menyertainya, ditambah pula terpapar Covid-19, kondisi fisik Sdr. Barnabas semakin lemah. Akhirnya, Saudari Maut menjemput Sdr. Barnabas Winkler, pada tanggal 06 Nopember 2020, sekitar pukul 12.20. Sebelumnya, ia sempat juga menerima Sakramen Pengurapan Orang Sakit dari Sdr. Kristof Jansen. Sdr. Barnabas sudah cukup lama mempersiapkan diri menyongsong Saudari Maut. Setiap kali ada saudara yang berpulang, beliau akan berkata, “Seharusnya peti itu bagian saya”. Kini, giliran beliau menghadap Sang Pencipta benar tiba. Namun, secara jujur sangat menyedihkan, sebab dia berangkat dalam kesunyian. Selamat jalan Pater Barnabas. RIP. Sampai bertemu di Yerusalem Surgawi.

Sdr. Theofil Odenthal, lahir di kota Lippstaadt - Jerman, tanggal 05 Mei 1934, dari pasangan Ewald Odenthal dan Elisabeth Odenthal. Saat dibaptis ia diberi nama Walter Odenthal. Karena suasana perang dunia kedua, Ia menjalani pendidikan Sekolah Dasar dalam waktu delapan tahun, yakni tahun 1940 – 1948. Kemudian, Ia melanjutkan pendidikan ke Sekolah Menegah Pertama, dengan langsung mengambil jurusan listrik, yakni di Sekolah Teknik Listrik dari tahun 1948 -1953. Berkat studi ini, Sdr. Walter Odenthal kelak menjadi seorang saudara yang sangat mahir dalam dunia kelistrikan. Kemudian ia melanjutkan pendidikan Sekolah Menengah Atas tahun 1953-1956. Setamat SMA, ia sempat bekerja sebagai seorang ahli listrik, sesuai dengan pendidikan yang dikecapnya. Atas rahmat panggilan Tuhan, Walter Odenthal kemudian memilih menjadi seorang Fransikan Kapusin (OFMCap). Ia memasuki novisiat di Stühlingen – Jerman, tanggal 24 April 1958, dengan mengambil nama biara Theofil. Semenjak itu, dia lebih dikenal dengan nama Sdr. Theofil Odenthal. Sdr. Theofil mengikrarkan kaul perdana pada Pesta St. Fidelis Sigmaringen, seorang martir kapusin asal Jerman, pada tanggal 24 April 1959. Karena ia memilih menjadi calon imam, ia diutus menjalani studi Filsafat pada tahun 1959-1961, dan dilanjutkan dengan studi teologi dari tahun 1961-1965. Sementara menjalani studi, Sdr. Theofil mengikrarkan kaul kekal dalam Propinsi Kapusin Rhein Westfalica – Jerman pada tanggal 24 April 1962. Kemudian ia ditahbiskan menjadi diakon pada tanggal 19 Maret 1964, dan dilanjutkan dengan tahbisan imam pada tanggal 19 Mei 1964. Seudah ditahbiskan menjadi imam, Sdr. Theofil masih meneruskan studi teologi, dan kemudian sempat menjalankan pelayanan imamat di Jerman. Sebagai persiapan keberangkatan ke tanah misi, Sibolga – Indonesia, Sdr. Theofil menjalani Kursus Kesehatan dari bulan Januari – Maret 1966 di Jerman. Dengan menggunakan kapal laut, tepat pada tanggal 02 Juni 1966, Sdr. Theofil berangkat menuju Tanah Misi, Sibolga – Indonesia. Ia tiba di Pelabuhan Belawan pada tanggal 28 Juni 1966. Selanjutnya, ia diutus ke Paroki Pangaribuan, Prefektur Apostolik Sibolga – Indonesia untuk menjalani kursus bahasa, yang dilanjutkan dengan tugas sebagai pastor rekan, dari tahun 1966-1968. Dari tahun 1968-1983, Sdr. Theofil Odenthal bertugas sebagai Pastor Paroki di Paroki St. Fransiskus Assisi Pangaribuan. Patut diingat bahwa kala itu, Paroki Pangaribuan masih mencakup Paroki St. Hilarius Tarutung Bolak dan Paroki St. Mikael – Tumba Jae aktual. Dengan kondisi geografis yang sangat luas, medan yang sangat sulit, jalan yang belum memadai dan sarana transportasi yang sangat terbatas, pastilah beliau bersama pastor rekannya berjuang dengan semangat pelayanan yang sangat tinggi. Pada tahun 1983-1987 Sdr. Theofil bertugas sebagai Pastor Paroki di Katedral St. Theresia Lisieux – Sibolga. Kala itu, Paroki ini mencakup wilayah Paroki St. Yosef – Pandan aktual. Selanjutnya, Sdr. Theofil menjadi pastor Paroki di Paroki Padangsidempuan; tepatnya dari tahun 1987-1996. Perlu juga dicatat bahwa waktu itu, Paroki Padangsidempuan juga mencakup Paroki St. Yohanes Penginjil – Pinangsori. Kemudian, tahun 1996-2013, Sdr. Theofil Odenthal bertugas sebagai Pastor Paroki di Paroki St. Mikael - Tumba Jae. Sdr. Theofil bebas dari tugas sebagai pastor paroki, saat usianya mendekati 80 tahun. Selanjutnya, beliau tinggal di Biara St. Feliks – Mela dari tahun 2013-2019, dan di Biara Yohaneum – Sibolga dari Mei 2019 sampai akhir hayatnya. Selain sebagai pastor paroki, Sdr. Theofil juga pernah sebagai anggota Dewan Imam Keuskupan Sibolga, Dekanus dan Konsultores. Dari tahun 2002 sampai akhir hayatnya, beliau merupakan bapa pengakuan para suster OSF di Pangaribuan dan beberapa komunitas lainnya. Dan semenjak tahun Januari 2018, beliau menjadi Bapak Spiritual Suster-suster St. Klara di Aek Raso – Tapanuli Tengah. Selain itu, beliau masih sangat rajin mengadakan pelayanan pastoral di berbagai paroki sebagai pastor assisten tidak tetap. Dia juga sangat gencar mempromosikan dan mendukung sistem digitalisasi data-data umat di berbagai paroki di Dekanat Tapanuli, Keuskupan Sibolga. Selama berkarya di paroki, Sdr. Theofil sangat aktif menggerakkan pemberdayaan ekonomi umat melalui pendirian Credit Union (CU). Di setiap paroki yang dilayani Sdr. Theofil CU pasti berdiri. Sesungguhnya selama hidupnya Sdr. Theofil tergolong saudara yang sangat sehat dan jarang sakit. Namun, beberapa tahun belakangan ini, tekanan darahnya kerap cukup tinggi. Selain itu, asam urat juga cukup tinggi. Selama di Yohaneum, beliau rutin mengunjungi dokter keluarga, yakni dr. Toni Giovanno Sinaga. Semuanya berjalan dengan baik. Beberapa bulan terakhir, beliau kerap mengalami batuk. Asam lambungnya kerap naik, hingga batuk juga. Untuk semua itu, ditemani oleh Sdr. Yustinus Waruwu, Sdr. Theofil kerap berobat ke dr. Toni. Dia pernah juga diinfus di Biara Yohaneum oleh suster dari Klinik St. Mikael. Namun, tidak pernah dikeluhkan penyakit yang sangat serius. Ditambah lagi karena pandemi Covid-19, ada keengganan untuk pergi ke rumah sakit, sebab sering terdengar bahwa penularan covid-19 justru sering terjadi di rumah sakit. Namun, karena rasa sesak yang tidak tertahankan, disertai oleh demam dan batuk, Sdr. Theofil dibawa berobat ke Klinik Yakin Sehat di Sibuluan pada tanggal 17 Oktober 2020. Sesudah menjalani pengobatan, beliau sempat merasa jauh lebih baik, dan kembali ke Biara Yohaneum tanggal 20 Oktober 2020. Akan tetapi, rasa sakit di perut dan di dada, demam dan batuk kambuh kembali, hingga sulit tidur sepanjang malam. Akhirnya, tanggal 21 Oktober Sdr. Theofil dibawa ke Rumah Sakit St. Elisabeth Medan. Setelah melihat gejala klinis Sdr. Theofil, dan memperhatikan rekam medik dari Klinik Yakin Sehat, pihak RS St. Elisabeth, langsung mengisolasi Sdr. Theofil, mengadakan swab test, dan menjalankan perawatan sebagai pasien terduga terpapar covid-19. Dugaan mereka sesuai dengan hasil swab test, yang keluar tanggal 22 Oktober. Selama perawatan diketahui bahwa Sdr. Theofil memiliki gangguan ginjal, tekanan darah tinggi, gangguan jantung dan asam urat. Sempat juga sangat lemas, kesadaran menurun dan mengalami kekacauan memori. Karena itu, Sdr. Theofil menerima Sakramen Pengurapan orang Sakit dari P. Alboin Simatupang Pr. Dokter mengusulkan agar dilaksanakan hemodialisis atau cuci darah. Pemasangan alat untuk hemodialisis dan hemodialisis pertama berjalan dengan baik pada tanggal 28 Oktober. Rasanya Sdr. Theofil akan lebih baik. Pada tanggal 29 Oktober saat bangun pagi dan sarapan pun semua berjalan baik. Namun, sekitar pukul 10.30 Sdr. Theofil tiba-tiba drop, dan kemudian meninggal dunia pada pukul 11.05 WIB. Sdr. Theofil, beristirahatlah dalam damai. Kata yang Saudara sering ungkapkan “Tabereng ma silang i (Mari kita lihat kayu salib)” mendapat kepenuhannya dengan kepergianmu. Saudara telah mempersatukan deritamu dengan derita Kristus di salib, dan kami berharap bahwa Salib Kristus akan menyelamatkanmu, dan menghantarmu ke surga abadi.

Sr. Dominika Nababan, OSF
Tuhan, selamatkan kami dari Virus Corona!

Adik-adik misioner terkasih, virus corona menjadi pusat perhatian terhangat sejak dua pekan terakhir Januari 2020. Virus ini mendadak menjadi teror mengerikan bagi masyarakat dunia, terutama setelah merenggut nyawa ratusan orang hanya dalam waktu singkat.
Virus corona jenis baru yang tengah menyerang masyarakat dunia saat ini dalam istilah kedokteran disebut sebagai 2019 Novel Coronavirus (Covid-19), merupakan jenis virus yang diidentifikasi sebagai penyebab penyakit pada saluran pernapasan, yang pertama kali terdeteksi muncul di Kota Wuhan, Tiongkok.

Virus ini diketahui pertama kali muncul di pasar hewan dan makanan laut di Kota Wuhan, dijual hewan liar seperti ular, kelelawar, dan ayam. Mereka menduga virus corona baru ini hampir dapat dipastikan berasal dari ular. Diduga pula virus ini menyebar dari hewan ke manusia, dan kemudian dari manusia ke manusia. Orang pertama yang jatuh sakit akibat virus ini juga diketahui merupakan para pedagang di pasar itu.

Bagaimana gejala-gejala seseorang terinfeksi virus corona?
Dinas Kesehatan Jawa Tengah menyatakan, virus corona yang menular ke manusia bisa menyebabkan peradangan saluran pernapasan. Gejalanya nyaris mirip flu biasa. Cuma demamnya lebih tinggi di atas 38 derajat. Kemudian penderitanya mengalami sakit kepala, batuk-batuk kering, pilek, sakit tenggorokan kadang juga sesak napas dan letih.

Lima cara penularan virus corona dari manusia ke manusia lainnya:

  1. Penularan dari cairan: air dapat membawa virus dari pasien ke orang lain yang berada dalam  jarak sekitar satu meter. Air yang dimaksud biasanya berupa cairan tubuh yang keluar saat berbicara, batuk, dan bersin.
  2. Penularan dari udara: virus corona bisa menyebar dalam jarak jauh melalui udara, menular dari satu orang ke orang lainnya.
  3. Penularan melalui kontak: virus dapat menular melalui kontak langsung dengan kulit atau selaput lendir (seperti mata, lidah, luka terbuka, dan lain-lain). Transmisi juga bisa berlangsung melalui darah yang masuk ke tubuh atau mengenai selaput lendir.
  4. Penularan dari hewan: orang yang mengolah, menjual, dan mendistribusikan hewan liar yang membawa virus corona dapat tertular melalui kontak tersebut.
  5. Kontak dekat dengan pasien: keluarga, orang yang tinggal serumah, petugas medis, atau bahkan orang yang sempat berada dekat dengan pasien rentan untuk tertular.


Virus bisa mati dalam rentang waktu 5-7 hari
Menurut sumber yang sama, masa inkubasi corona paling pendek berlangsung selama 2 hingga 3 hari, sedangkan paling lama bisa mencapai 10 hingga 12 hari. Namun melihat perilaku virus corona pada penyakit lainnya, para ahli mengatakan bahwa masa inkubasi tersebut dapat mencapai waktu 14 hari. Ini adalah rentang waktu yang dibutuhkan oleh virus tersebut untuk menjangkit dan menampakkan gejala-gejala awal. Dalam masa tersebut virus corona masih bisa menular ke orang lain sehingga cukup sulit untuk mendeteksinya.

Karena itulah adik-adik, pemerintah kita baik Pemerintah maupun pemimpin Keagamaan meliburkan sekolah-sekolah, kegiatan keagamaan dan semua kegiatan yang melibatkan banyak orang. Dianjurkan supaya kita tetap tinggal di rumah, agar kita tidak terjangkit virus corona maupun menularkan virus tersebut kepada orang lain.
Pada 30 Januari 2020 virus corona telah menyebar ke 18 negara

Langkah Mencegah Penularan Virus Corona
1. Mencuci tangan dengan benar
Mencuci tangan dengan benar adalah cara paling sederhana namun efektif untuk mencegah penyebaran virus 2019-nCoV. Cucilah tangan dengan air mengalir dan sabun, setidaknya selama 20 detik. Pastikan seluruh bagian tangan tercuci hingga bersih, termasuk punggung tangan, pergelangan tangan, sela-sela jari, dan kuku. Setelah itu, keringkan tangan menggunakan kain atau handuk bersih.

2. Menggunakan masker
Meski tidak sepenuhnya efektif mencegah paparan kuman, namun penggunaan masker ini tetap bisa menurunkan risiko penyebaran penyakit infeksi, termasuk infeksi virus Corona. Penggunaan masker lebih disarankan bagi orang yang sedang sakit untuk mencegah penyebaran virus dan kuman, ketimbang pada orang yang sehat.

3. Menjaga daya tahan tubuh
Daya tahan tubuh yang kuat dapat mencegah munculnya berbagai macam penyakit. Untuk menjaga dan meningkatkan daya tahan tubuh, adik-adik  disarankan untuk makan makanan sehat, seperti sayuran dan buah-buahan, dan makanan berprotein, seperti telur, ikan, dan daging tanpa lemak. Bila perlu, menambah konsumsi suplemen sesuai anjuran dokter.

4. Tidak pergi ke luar rumah atau kota
Agar tidak tertular virus ini, Anda disarankan untuk tidak bepergian ke tempat-tempat yang sudah memiliki kasus infeksi virus Corona atau berpotensi menjadi lokasi penyebaran coronavirus.

5. Menghindari kontak dengan hewan yang berpotensi menularkan coronavirus
Coronavirus jenis baru diduga kuat berasal dari kelelawar dan disebarkan oleh beberapa hewan mamalia dan reptil. Oleh karena itu, hindarilah kontak dengan hewan-hewan tersebut.

Adik-adikku, sudah banyak korban meninggal dunia dari covid-19 ini yang mencakup seluruh dunia termasuk negara kita. Semua resah, pemerintah berusaha keras mengarahkan masyarakat kita, membeli peralatan dengan harga mahal dan obat-obatan supaya tidak banyak korban. Tetapi yang paling penting adalah, setialah tinggal di rumah meskipun membosankan. Isi dengan belajar, banyak membaca, jaga kesehatan dan kebersihan tubuh.  Kesempatan untuk banyak berdoa bersama keluarga mohon agar Tuhan mengampuni dosa-dosa manusia yang semakin jauh dari Tuhan dan berbuat dosa, dan membantu kita agar selamat dari virus ini. [Sr. Dominika Nababan, OSF]

Semoga Tuhan memberkati dan melindungi kita dari covid-19 ini.
Semoga Tuhan memperlihatkan wajah-Nya kepada kita, dan memberi kita damai-Nya.
Semoga Tuhan memberkati kita. (St. Fransiskus Asisi)
Salam missioner.

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget