November 2020

Saudara kita, Mgr. Dr. Anicetus B. Sinaga OFMCap, lahir pada tanggal 25 September 1941 di Naga Dolok, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara, dari pasangan penganut agama Parmalim, Malim Sinaga dan Pandang Harianja, sebagai anak keempat dari sembilan bersaudara. Sejak kecil dia diberi nama Bongsu Sinaga. Pendidikan Sekolah Dasar ia lalui di dua sekolah karena perpindahan tempat tinggal orangtuanya; pertama di SD Negeri Siatasan, Simalungun, Sumatra Utara pada tahun 1949-1952 (kelas I-III), dan kedua di SDN Bahtongguran, Simalungun, Sumatra Utara, pada tahun 1952-1955 (kelas IV-VI). Pendidikan SMP ia lalui di SMP RK Jl. Sibolga 21 Pematangsiantar (1955-1959). Di saat SMP, beliau memilih dan memutuskan menjadi pengikut Yesus Kristus dalam Gereja Katolik. Pendidikan SMA ia lalui di SMA Seminari Menengah Christus Sacerdos Pematangsiantar (1959-1963). Sesudah itu ia memilih menjadi Kapusin, dan memulai novisiat di Novisiat St. Fidelis - Parapat pada tanggal 01 Agustus 1963. Dia mengikrarkan kaul pertama kalinya pada tanggal 02 Agustus 1964. Beliau menjalani Pendidikan Filsafat di Seminari Agung Parapat tahun 1964-1967. Kemudian menjalani Pendidikan Teologi di Seminari Tinggi Jl. Medan, Pematangsiantar (1967-1970). Ia menerima tahbisan imam pada 13 Desember 1969 di Pematangsiantar. Ia menempuh studi lisensiat (S2) Teologi Moral di Roma (Alfonsiana), pada 1970-1972 dilanjutkan dengan menempuh studi doktorat di bidang Teologi Dogmatik di Leuven Belgia pada 1972-1975, dengan tesis doktoratnya: The High God of the Toba Batak: Transcendence an Immanence. Setelah itu beliau menjadi dosen teologi di Seminari Tinggi Jl. Medan Pematangsiantar. Pada tanggal 28 Oktober 1978 ia diangkat sebagai Prefek Apostolik Sibolga. Tugas ini diemban hingga pada tanggal 24 Oktober 1980, saat ia kemudian diangkat menjadi Uskup Keuskupan Sibolga. Ia menerima tahbisan Episkopat langsung dari tangan Paus Yohanes Paulus II di Roma pada 6 Januari 1981. Ia menjadi gembala penuh Keuskupan Sibolga sampai pada tanggal 03 Januari 2004, saat ia diangkat sebagai Uskup Koajutor Keuskupan Agung Medan (KAM). Pelantikan sebagai Uskup Koajutor sendiri diadakan pada tanggal 12 Februari 2004. Selanjutnya ia diangkat sebagai Uskup Metropolit KAM pada 12 Februari 2009 dan dilantik pada 22 Februari 2009. Sesudah melayani sebagai uskup di Keuskupan agung Medan hampir 15 tahun, beliau memasuki masa pensiun (emeritus) pada Desember 2018. Sebelum mengakhiri tugas sebagai Uskup Metropolit KAM, Mgr. Anicetus kembali mendapat tugas baru dari Vatikan pada 23 September 2018, yakni sebagai Administrator Apostolik Keuskupan Sibolga, berhubung Uskup Sibolga, Mgr. Ludovikus Simanullang meninggal dunia pada 20 September 2018. Karena itu, setelah pensiun dari KAM, Mgr. Anicetus segera kembali menjalankan tugas kegembalaan di Keuskupan Sibolga hingga maut menjemput beliau pada tanggal 7 Oktober 2020. Selama menjabat sebagai Uskup, Mgr. Anicetus juga mendapat kepercayaan sebagai tugas tambahan. Ia pernah menjabat sebagai Ketua Komisi Liturgi KWI (1979-1988), sebagai utusan KWI ke Sinode Uskup di Roma pada 29 September – 29 Oktober 1983, Ketua Komisi HAK (Hubungan Antar-agama dan Kepercayaan) KWI pada 1988-1997, sebagai wakil Ketua Komisi HAK FABC pada 1989-1995, sebagai Ketua Komisi Teologi KWI pada 1997-2003, sebagai utusan ke Sinode Uskup Asia di Roma pada Oktober 1998, sebagai Delegatus/Ketua LBI KWI (2003-2009) dan sebagai anggota Komisi Teologi KWI (Ketua Seksi Ajaran Iman) pada November 2009-2018. Sedikit mengenai riwayat sakit Mgr. Anicetus sebelum mengakhiri peziarahannya di dunia ini. Mgr. Anicetus Bongsu Sinaga sebenarnya sangat jarang sakit. Dulu, memang beliau pernah mengidap bronkitis, tetapi sudah lama sembuh. Pada tanggal 13 Oktober 2020, Mgr. Anicetus merasa kurang sehat dan membutuhkan obat. Maka, beliau dibawa berobat ke Klinik St. Melania Sarudik, dan selanjutnya istirahat di rumah. Karena semakin lemah, tanggal 15 Oktober, ia menjalani opname di klinik yang sama. Menurut hasil pemeriksaan, Mgr. Anicetus mengalami gejala demam tipus. Demi perawatan kesehatan yang lebih baik, pada tanggal 16 Oktober Mgr. Anicetus dirujuk ke RS St. Elisabet Medan. Menurut hasil pemeriksaan, Mgr. Anicetus mengalami infeksi paru-paru yang serius, selain demam yang dikeluhkannya Selain itu, beliau juga sempat terpapar covid-19, namun dapat ditangani dengan baik sehingga pada 31 Oktober; berdasarkan pengujian laboratorium, ia dinyatakan bebas dari covid-19 (negatif). Setelah itu penanganan medis dikonsentrasikan pada paru-paru. Segala upaya medis telah dimaksimalkan, namun Tuhan mempunyai rencana lain atas hidupnya. Pada 7 November 2020, pukul 18.00 WIB, Mgr. Anicetus B. Sinaga menyelesaikan seluruh peziarahannya di dunia ini. Ia menghadap Allah dengan tenang. Sehari sebelum dia meninggal dunia, atas permintaan sendiri, dia menerima sakramen Pengurapan Orang Sakit dari tangan Uskup Keuskupan Agung Medan, Mgr Kornelius Sipayung OFMCap. Mgr. Anicetus dikenal sebagai pribadi yang sangat saleh, beriman, berpengharapan, penuh sukacita, optimis, cerdas, berpendidikan, berpikir positif dan penuh kasih kepada semua orang. Dia dikenang banyak orang karena kesederhanaannya dan kemurahan hatinya. Dia adalah gembala baik, yang berkorban untuk kawanan dombanya dan berhati mulia. Selamat jalan saudara kami, Yang Mulia Mgr. Anicetus Bongsu Sinaga OFMCap, dan berbahagialah bersama para kudus di surga. Doa kami mengiringi perjalananmu menuju Rumah Bapa. Doakan kami, para sauaramu, umat Keuskupan Sibolga, dan semua orang yang membutuhkan doa-doamu. RIP!

Sdr. Barnabas Winkler lahir di St. Andrä - Bozen, Italia, pada tanggal 19 Juni 1939, sebagai anak kedua dari pasangan Johann Winkler dan Philomena Hirber. Saat dibaptis ia diberi nama Johan Winkler. Dia menyelesaikan pendidikan Sekolah Dasar St. Andrä (1946 – 1953) dan Sekolah Menengah di Seminari Kapusin Salern/Vahrn (1953 – 1959). Setamat Seminari Menengah, ia memilih menjadi anggota Ordo Fransiskan Kapusin (OFMCap), dan memulai masa novisiat di Klausen pada tanggal 28 Agustus 1959 dengan nama Barnabas Winkler. Sdr. Barnabas mengikrarkan kaul perdana tanggal 29 Agustus 1960 dan Kaul kekal tanggal 29 Agustus 1963. Ia menyelesaikan Lyceum di Brunneck (1960-1962), Filsafat di Sterzing (1962-1964) dan Teologi di Brixen (1964-1968). Kemudian ditahbiskan sebagai diakon pada bulan April 1968, dan tahbisan imam pada tanggal 29 Juni 1968. Selesai tahbisan, Sdr. Barnabas Winkler mempersiapkan diri menjadi missionaris ke Indonesia. Dia tiba di Indonesia pada tanggal 01 Desember 1970, dan langsung belajar Bahasa Indonesia di Padangsidempuan sampai Juni 1971. Kemudian dia diangkat menjadi Pastor pembantu di Distrik Gunungistoli dan Nias Barat (1971-1973), dan menjadi pendamping calon bruder di Bruderan Gunungsitoli pada tahun 1973-1978 . Pada tahun 1978 Sdr. Barnabas menjalani kursus di Girisonta (RESPITA). Sdr. Barnabas melayani sebagai Superior Kapusin Regio Sibolga pada tahun 1978-1987 (3 periode) dan kemudian tahun 1990-1994 (satu periode). Beliau juga pernah menjabat sebagai Propinsial Kapusin Indonesia selama 2 periode (1985-1991). Kemudian sebagai Minister Propinsial pertama Propinsi Kapusin Sibolga, tahun 1994-1997. Pada tahun 1998-2003, Sdr. Barnabas menjadi formator dan gardian bagi para saudara-saudara muda kapusin yang menjalani masa post-nopisiat di Biara St. Fransiskus – Gunungsitoli. Ia juga diberi tugas sebagai Ekonom Keuskupan Sibolga (2001-2004; 2007-2010), dan kemudian menjadi Konselor sekaligus Wakil Minister Propinsial Propinsi Kapusin Sibolga pada tahun 2000-2003. Pada tahun 2004-2007, beliau diangkat sebagai Administrator Diosesan Keuskupan Sibolga. Terpilih kembali sebagai Konselor Propinsi Kapusin Sibolga tahun 2009-2012. Selanjutnya kembali sebagai formator di Biara St. Fransiskus – Gunungsitoli pada tahun 2012-2016. Mulai akhir tahun 2016 Sdr. Barnabas Winkler tinggal di Biara Yohaneum hingga menghembuskan nafas terakhir pada tanggal 06 Nopember 2020. Tak cukup kata untuk melukiskan rahmat Tuhan dalam diri Sdr. Barnabas, yang nyata dalam aneka talentanya. Sebagaimana judul buku kenangan 50 tahun tahbisan imamatnya pada tanggal 29 Juni 2018, Sdr. Barnabas adalah seorang ahli pembangunan fisik dan spiritual. Dia adalah seorang saudara yang rendah hati, sabar, murah membantu dan meiliki karisma sebagai pemimpin. Dia memiliki peranan yang sangat penting dan banyak dalam perkembangan Keuskupan Sibolga dan Ordo Kapusin Propinsi Sibolga, yang kemudian menjadi Kustodi General Sibolga dan Kustodi General Kepulauan Nias. Ia juga sangat berperanan dalam penanaman Kongregasi OSF Reute – Jerman di Keuskupan Sibolga, dan menghadirkan serta merawat para suster OSCCap dari Biara St. Klara di Senden, hingga tumbuh di Biara St. Klara Gunungsitoli, Sikeben, Sekincau, Kefamenanu dan Aek Raso. Semenjak tinggal di Biara Yohaneum mulai dari akhir 2016, sebenarnya Sdr. Barnabas sedang menjalani masa tuanya. Dia tidak lagi memegang tanggung jawab khusus, karena sudah tua dan memerlukan perawatan khusus, karena aneka peristiwa di masa lampau. Misalnya, tatkala gempa melanda Gunungsitoli – Nias pada bulan Maret 2005, Sdr. Barrnabas tertimpa reruntuhan gedung. Syukurlah bahwa ia ditemukan hidup. Namun, ia harus menjalani opname dalam waktu lama. Ia juga pernah menjalani aneka operasi di Jerman. Karena memiliki gangguan jantung, pada tahun 2011, Sdr. Barnabas berobat ke Jerman. Di sana dipasang baginya baterai sebagai alat pemacu jantung. Baterai itu sempat di-charge di Penang dan di Jakarta pada tahun 2015 dan 2016. Secara khusus selama setahun terakhir, kesehatan Sdr. Barnabas kerap menurun. Karena itu, ia rutin berobat ke dokter keluarga, dr. Toni Giovanno Sinaga, atau ke Klinik Yakin Sehat di Sibuluan. Ia rutin mengonsumsi obat demi menjaga kesehatannya, khususnya jantung dan tekanan darah. Karena sakit demam, batuk, dan denyut jantung yang sangat lemah, sesudah dirawat beberapa hari di Biara Yohaneum, Sdr. Barnabas Winkler dibawa berobat ke Klinik Yakin Sehat pada tanggal 16 Oktober 2020. Sebelumnya, pada pagi hari, Sdr. Barnabas telah menerima Sakramen Pengurapan orang Sakit dari tangan Sdr. Yoseph Sinaga. Selama di Klinik Yakin Sehat kondisi Sdr. Barnabas mengalami naik turun. Dan, karena keterbatasan tenaga medis dan sarana peralatan kesehatan, Sdr. Barnabas dibawa ke Rumah Sakit St. Elisabeth Medan pada tanggal 23 Oktober 2020. Setelah mempelajari hasil rekam medik dari Yakin Sehat, di RS St. Elisabeth, ia diperlakukan sebagai pasien suspect covid-19, dengan menempatkannya di ruang isolasi. Dan menurut hasil swab test, Sdr. Barnabas positif terpapar Covid-19. Berbagai upaya dilakukan oleh tim medis RS St. Elisabet agar Sdr. Barnabas lekas pulih dari penyakit yang dideritanya dan bebas dari Covid-19. Namun, karena usia sudah tua dan penyakit jantung yang menyertainya, ditambah pula terpapar Covid-19, kondisi fisik Sdr. Barnabas semakin lemah. Akhirnya, Saudari Maut menjemput Sdr. Barnabas Winkler, pada tanggal 06 Nopember 2020, sekitar pukul 12.20. Sebelumnya, ia sempat juga menerima Sakramen Pengurapan Orang Sakit dari Sdr. Kristof Jansen. Sdr. Barnabas sudah cukup lama mempersiapkan diri menyongsong Saudari Maut. Setiap kali ada saudara yang berpulang, beliau akan berkata, “Seharusnya peti itu bagian saya”. Kini, giliran beliau menghadap Sang Pencipta benar tiba. Namun, secara jujur sangat menyedihkan, sebab dia berangkat dalam kesunyian. Selamat jalan Pater Barnabas. RIP. Sampai bertemu di Yerusalem Surgawi.

MKRdezign

Formulir Kontak

Nama

Email *

Pesan *

Diberdayakan oleh Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget